Dihargai Rp 20 Juta, Siap Pasang Sejak 17 Tahun Lalu
Lantai marmer dan kijing (batu nisan) di kompleks makam Astana Giribangun, Karanganyar, Jateng, didatangkan langsung dari Tulungagung. Inilah kesaksian Munari, perajin kijing yang dipercaya keluarga Cendana.
HAKAM SHOLAHUDDIN, Tulungagung
Prosesi pemakaman Soeharto di Astana Giribangun kemarin (28/1) hanya bisa dilihat Munari lewat layar televisi di rumahnya, Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung. Salah satu yang menjadi perhatian dia adalah lantai marmer di kompleks makam keluarga mantan orang kuat Orde Baru itu.
Maklum, dialah yang dulu mengerjakan pemasangan marmer di sana. “Keramik (marmer) itu memang dari sini (Tulungagung). Yang mengerjakan bukan hanya saya. Tapi, saya dipasrahi penuh,” jelas Munari kemarin.
Dia adalah perajin marmer yang selama ini menjadi langganan keluarga Cendana. Saking lekatnya kenangan lelaki berusia 68 itu dengan Astana Giribangun, dia sebetulnya sudah merencanakan berangkat ke Giribangun untuk menyaksikan pemakaman Pak Harto. Tapi, karena banyak pekerjaan yang belum rampung, rencana itu pun dibatalkan. “Terpaksa nonton TV saja,” ujar bapak empat anak tersebut kepada Radar Tulungagung (Grup Jawa Pos).
Selama wawancara, sesekali dia melihat sejumlah karyawannya bekerja di belakang rumah.
Menurut Munari, dirinya terlibat pembangunan makam keluarga di bukit yang dekat makam Mangkunegaran itu sejak 1971. Dia diberangkatkan perusahaannya, PT Industri Marmer Indonesia Tulungagung (IMIT), untuk memasang keramik dan membuat kijing. “Saat itu, saya bersama 12 teman lain dari IMIT,” ungkapnya.
PT IMIT yang diresmikan sejak 1961, kata Munari, adalah milik Sandi Moerdani, kakak almarhum mantan Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani. Sekarang, kepemilikan IMIT sudah beralih tangan. “Sudah dilelang dan sekarang milik patungan orang Korea dengan Indonesia,” jelasnya.
Dia mengaku, untuk membangun Giribangun, perusahaan sengaja memilih marmer berkualitas tinggi. Hal tersebut tak lain karena pemesannya, Soeharto, saat itu adalah orang nomor satu di negeri ini. “Hubungan Pak Sandi (Sandi Moerdani, direktur IMIT) dengan Pak Harto sudah seperti keluarga,” katanya.
Selama pembangunan makam itu, Munari harus bolak-balik Karanganyar-Solo. Nah, selama tinggal di Solo, Munari tidak boleh kos di luar. Dia harus menginap di Dalem Kalitan Solo supaya bisa berkonsentrasi menggarap makam.
“Pak Sriyanto (kepala rumah tangga Dalem Kalitan) tidak memperbolehkan saya kos di luar. Saya bersama teman-temannya tidak dianggap seperti buruh, tapi sudah seperti keluarga sendiri,” ujar pria yang mengenyam pendidikan SGB (Sekolah Guru Bantu) itu.
Menurut Munari, bukan hal yang terlalu membanggakan bisa menggarap makam keluarga penguasa negeri waktu itu. “Saat itu kan wajar-wajar saja karena saya memang bisa memasang keramik dan ompak (batu di bawah tiang),” ungkapnya.
Selama mengerjakan makam tersebut, kadang Soeharto berkunjung melihat penggarapan. Setiap kunjungan waktu itu, Soeharto tidak lupa selalu menyapa para pekerja. “Orangnya memang baik dan ramah. Kami disapa dan dipuji. Katanya, pekerjaannya bagus,” ujarnya.
Dari perlakuan itulah Munari terkesan pada Soeharto dan keluarganya. Bahkan, dia merasa punya utang budi yang harus dibalas.
Munari yang kini menjadi ketua Ranting PDIP Desa Gamping, Campurdarat, Tulungagung, tersebut tidak hanya memasang marmer, tapi juga membuat kijing makam. Yang pertama dibuat adalah kijing Siti Hartini Oudang (kakak Ibu Tien Soeharto), lantas kijing untuk Soemoharjono dan Fatmawati Soemoharjono (ayah dan ibunda Ibu Tien Soeharto).
Pembuatan setiap kijing memakan waktu sekitar 1,5 bulan. Kijing itu berasal dari marmer jenis putih yang berkualitas sangat bagus. Berbeda dari lantai Astana Giribangun yang digarap di lokasi, pembangunan kijing tersebut dilakukan di lokasi pabrik PT IMIT di Desa Besole, Besuki.
Nah, usai kijing dikerjakan, keluarga Soeharto merasa sangat puas. Bahkan, kata Munari, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut, putri sulung Soeharto) berpesan kepada keluarganya, kalau ingin membuat kijing, jangan ke mana-mana, tapi ke Munari saja.
Dari situlah, menurut Munari, biasanya Sriyanto menghubungi dirinya jika keluarga Cendana memerlukan kijing. “Beberapa waktu lalu, ada keluarga Ibu Tien yang meninggal. Juga Pak Sriyanto itu yang menghubungi saya,” ungkapnya.
Bagaimana dengan kijing Ibu Tien dan Soeharto? Menurut Munari, pembuatan kijing mereka berdua tidak dilakukan dirinya dalam kapasitas sebagai karyawan PT IMIT. Sebab, sejak 1983, dia sudah keluar dari perusahaan tersebut. “Waktu itu saya garap sekitar 1991,” jelasnya.
Dia menuturkan, kijing tersebut dibuat dua sekaligus. Yakni, rencana untuk Fatimah Hartinah Soeharto (Ibu Tien) dan Soeharto. Itu berarti kijing tersebut dibuat lima tahun sebelum Ibu Tien meninggal dan 17 tahun sebelum Pak Harto mangkat, 27 Januari 2008.
“Jadi, kalau sekarang, mungkin tinggal menuliskan nama Pak Harto saja. Nggak tahu kalau saya akan ditimbali (dipanggil) lagi untuk menuliskan di batu nisan tersebut,” katanya.
Berapa harga kedua kijing tersebut? Munari tidak segan-segan menyebutkan angkanya. “Waktu itu harganya Rp 20 juta per kijing. Nggak tahu kalau sekarang,” ujarnya.
Pemilik UD Kurnia Sari Bumi itu menuturkan, untuk setiap kijing dia membutuhkan bahan baku batu berukuran 250 x 80 x 80 sentimeter. Batu tersebut kemudian dibentuk sesuai desain yang diinginkan pemesan. Kata dia, seluruh desain kijing keluarga penguasa Orde Baru itu dari si pemesan. Dia tinggal mengerjakan dan memilih bahan baku yang kualitasnya sangat bagus.
Marmer yang bagus, lanjut Munari, selain berwarna putih, harus memiliki urat batu seperti berbentuk kembang. “Kalau urat air, itu kualitas kurang bagus,” kata pria yang menjadi perajin sejak usia remaja.
Setelah dibuat, kata dia, desain batu nisan itu tidak lantas disimpan. Dia serahkan lagi desain itu kepada keluarga Cendana atau Yayasan Mangadeg, pengelola k makam Astana Giribangun. Itu dilakukan agar bentuk kijing tidak ditiru orang lain. “Kalau tetap dipegang perajin, takutnya dicontoh. Maka, ketika selesai saya garap, saya kembalikan lagi,” jelasnya.
Bagaimana pengiriman kijing ke Astana Giribangun? Munari tidak perlu repot-repot mencarter kendaraan pengangkut. Presiden yang berkuasa 32 tahun itu mengirim truk pengangkut sendiri. Saat itu, kata dia, datang truk bersama empat orang berambut cepak. “Ya, mungkin dari angkatan,” ujar pria yang juga pernah memasang keramik di Istana Bogor itu.
Kini kondisi UD Kurnia Sari Bumi kembang kempis. Bahkan, ruang pamer yang berada persis di depan rumah itu tidak lagi memajang satu barang pun. Kosong melompong. Dia mengakui usahanya kalah dengan pengusaha-pengusaha lain di Campurdarat dan Besuki yang kini berjumlah seratusan.
Di sana, selain ada PT IMIT, perusahaan keramik terbesar, juga banyak perusahaan lokal yang berjaya. “Kalah dengan pengusaha besar. Mereka bisa ekspor, sedang saya ini hanya bisa menunggu pemesan,” katanya.
Saat ini usaha itu dilanjutkan putra-putranya. Lokasi penggarapan diletakkan di belakang rumah. Namun, perkembangannya juga belum bagus. Dia mempunyai empat pekerja yang statusnya musiman. “Kalau ada yang pesan, pekerja saya panggil. Kalau nggak ada, ya libur,” ujarnya. (el)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar